Teman Cerita

Teman...
Teman adalah seseorang yang ada di sekitar kita, ngobrol bareng dan bahkan makan bareng. Ya
Teman memang hanya lingkup itu saja, ngobrol kalo ada butuhnya, dan muncul pas lagi butuh doang.

Milyaran orang hidup di dunia ini tapi tidak semuanya bisa menjadi teman kita
Milyaran orang berkeliaran disekitar kita tapi nggak semuanya bisa ngobrol dengan kita
Milyaran orang datang dan pergi di hidup kita tapi tidak ada yang menetap

Karena pada dasarnya memang begitulah hidup, lucu.
Karena begitu lucu untuk dilewati, dan begitu pahit untuk dirasakan. Ya
Karena hidup ya gitu-gitu aja, kamu tidur, bangun di pagi hari, beraktivitas, makan, minum, bercengkrama dengan orang-orang di hidupmu pada saat itu yang gak tau sampai kapan mereka akan berada di sisimu.

1 tahun? 2 tahun? 10 tahun? nggak ada yang tau.
Teman datang dan pergi begitu saja.
Aku tau semua orang yang datang ke hidupku memang sudah ditentukan oleh Allah untuk membantuku berkembang. Baik berkembang lebih baik atau lebih buruk. Semuanya tergantung pilihan yang kita pilih.

Ya, hidup itu pilihan. Pilihan untuk memilih hidup. Karena sejatinya pilihan itu kita pilih untuk memilih sesuatu yang menentukan hidup kita. Hmm rumit bukan?
Serumit itu dan ya aku hanya bisa berceloteh di dinding putih yang sedang ku tatap saat ini. Tidak bisa kupungkiri pemikiranku memang rumit dan bahkan aku seringkali berfikir bahwa aku orang yang sangat aneh. Ya aneh aja. Aku benar-benar berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Ketika orang-orang di sekitarku menyukai produk A aku malah menyukai produk B, ketika orang-orang memilih mie ayam aku malah memilih martabak, ketika orang-orang menyukai warna kuning alih-alih aku menyukai warna abu-abu. Ya aneh. Sangat. Dan ketika orang-orang mempunyai teman untuk bercerita aku hanya punya teman yang hanya mampir. Ya hanya mampir. Hmm definisi mampir sendiri sangat ambigu, tapi ya begitulah lingkungan pertemananku.

Aku tidak tau kenapa aku tidak punya teman untuk sekedar bercerita random apa yang ada di pikiranku. Oh iya aku pernah punya beberapa teman cerita, teman yang selalu menjadi pendengar terbaikku, yang selalu siap mendengar ceritaku apapun itu dan seaneh apapun itu. Se random apapun itu dia selalu mendengarkannya. Tidak hanya teman cerita, tetapi juga teman yang bisa kupercayai memegang sebuah rahasia yang kuberikan, teman makan kapan aja dan teman pergi ke mana aja walaupun tempatnya random. Haha. Sampailah suatu saat dikarenakan masalah yang aku sendiri sebenarnya menganggapnya sepele dan bisa diselesaikan dengan sebuah percakapan dan komunikasi yang baik malah hancur. Ya hancur sehancur hancurnya. Sebuah dinding kepercayaan yang sudah ku bangun, beribu dongeng yang sudah kuceritakan dan beragam cita rasa panganan yang sudah kami rasakan semuanya hanyalah kenangan. Aku juga tidak paham kenapa semua ini berjalan dengan sangat cepat bagaikan flash lewat sebelum mata ini selesai berkedip. Ya secepat itu. Pada saat itu aku baru mempercayai bahwa hidup itu tidak selalu di atas karna aku sedang berada di level hidup paling bawah, bagaikan jumlah lantai di mall aku berada di level under ground. Perasaan yang tidak bisa kujelaskan kepada siapapun karena hidup sedang mengambil teman ceritaku, tidak ada lagi yang mendengarkan cerita randomku, ocehan tidak jelasku dan bahkan konspirasi" aneh yang ada di benakku. Kosong sekosongnya. Bagaikan jiwaku direnggut oleh voldemort. Tidak ada secercah cahaya di wajahku. Segaris senyumanpun tak kuberikan pada dunia. Ya sehancur itu.

Hingga sampai saat ini aku masih dengan setia dengan teman ceritaku satu-satunya, ya kanvas putih yang berada di depan layarku. Setidaknya di sini aku tidak mendengarkan omongan netizen yang maha benar dan tidak bertanggung jawab dengan omongannya. Ingin sekali aku menjadi orang yang bodo amat. Ya bodo amat dengan segala hal, tidak perlu memikirkan omongan orang lain or at least I can fake my feeling infront of the world and say it loud that I am fine just the way it is right now. Wuhu tidak semudah itu ferguso. Oh sekarang lagi heboh bambang so let me ralat it. Wuhu tidak semudah itu bambang. Hehe. See, so random.

Terkadang rasanya ingin sekali keluar dari zona ini. Sungguh aku berada di zona merah yang menuntutku harus mengikuti garis putih hinggi sampai ke zona aman. Hanya saja aku masih berada di zona merah. Setidak nyaman itu kehilangan darah sambil berlari menyelamatkan hidup. Belum lagi jika bertemu dengan segorombolan begal yang sukanya nongkrong di jembatan. I am a loner survivor dan mereka sukanya main keroyokan. Kalian bertanya ke mana perginya timku? Yap mereka sudah keluar beberapa saat ketika semua ini dimulai. Mereka terlalu lemah? kurasa tidak, mereka kehabisan darah disaat mencoba menyelamatkan nyawaku. So semua ini salahku? Maybe.

Mungkin ini sebuah karma bagiku karna membiarkan mereka kehabisan darah tanpa mencoba menolongnya, karena memang aku lemah. Terlalu lemah bahkan untuk bertahan di zona merah dan berharap sampai ke zona aman. But game must go on babe. So here I am, stuck in the middle of anxiety.

Haha
Pada dasarnya setiap manusia butuh manusia lainnya bukan untuk bersosial, begitu juga denganku. If just I can find the magic lamp that can smoke out a jin and I can have 3 wishes so yang pertama aku bakal meminta teman cerita di hidupku, dan menyimpan 2 wishesnya di kemudian hari. Cause yes I really need teman cerita pada saat ini.

Mungkin kalian bertanya-tanya why can't I choose one of my friends or best friend and make it as teman cerita. Hmm yak balik lagi, I am a random, literally random dan sejauh ini belum ada yang bisa mendengarkan ke randomanku dengan seksama dan ya you know chill with everything. Bagi kalian yang tau aku mungkin belakangan ini aku jarang banget untuk curhat apapun, malah seringnya ngobrolin hal-hal yang umum aja seperti musik nowadays, youtuber beken, dan selebgram keren. Just it.

I guess the trauma of trusting someone hit me to the bottom of my life. To afraid to tell the truth? Haha
Terlalu membekas lebih tepatnya. Bukan hanya goresan tapi sebuah luka yang sangat dalam yang tidak bisa kulukiskan karna ya itu dia aku tidak bisa menderkripsikannya dengan sebuah kata-kata hanya air mataku yang bisa mengartikannya.

Holla teman ceritaku, aku tidak baik-baik saja maka mendekatlah padaku lalu duduklah di sampingku dan dengarkanlah ocehanku bagaikan rap nya eminem yang tidak ada helaan nafas per katanya kau cukup menjadi pendengarku. Setidaknya sampai trauma ini sirna dari hidupku, menetaplah di sampingku.

Comments
0 Comments

Post a Comment